Sunday, 24 January 2021

[Review] Affliction (2021)

(upstation.asia)

Nina (Raihaanun) dan Hasan (Ibnu Jamil) memutuskan untuk pulang kampung sekalian liburan bersama dua anaknya karena mendengar kabar bahwa kondisi ibu Hasan yang dipanggil Bunda (Tutie Kirana) yang mengidap Alzheimer semakin memburuk. Hasan terlihat enggan untuk pulang kampung, membuat Nina curiga bahwa ada sesuatu yang disembunyikan suaminya.

Penonton diajak untuk melihat dari sudut pandang Nina, menantu yang belum pernah bertemu dengan  ibu mertuanya. Ini adalah pertama kalinya ia akan berkunjung sekaligus berniat mengajak mertuanya untuk tinggal bersama. Di awal ada hint kalau Nina ini terlihat punya kemampuan lebih untuk melihat pertanda kematian seperti saat sebelum ibu kandungnya meninggal. Selama di rumah Bunda, ada rasa rasa tak nyaman karena berada di tempat terpencil dengan ibu mertua yang bisa mendadak kumat sambil menggenggam pisau. Mana gak mau minum obatnya lagi.

Sejak bekerja sama dalam About a Woman, kelihatannya Teddy Soeriaatmadja cocok dengan Tutie sehingga mengajaknya untuk bergabung dalam Affliction. Tutie Kirana adalah salah satu aktor senior yang aktingnya tak usah diragukan lagi. Memerankan Bunda, ekspresinya bisa berubah datar saat kumat lupa dengan Nina dan cucu-cucunya lalu menjadi histeris sambil menggenggam pisau. 

Affliction memang bukan horor jumpscare yang setannya mendadak muncul bikin jantungan, namun horor psikologis yang membuat penonton berpikir apakah hantunya beneran ada atau itu hanya khayalan Nina saja karena perilaku Bunda dan kondisi rumah yang rada seram.

Setting rumah Bunda mirip seperti di Pengabdi Setan, sebuah rumah jadul berdiri sendiri di tengah kumpulan pohon rimbun dan jauh dari tetangga serta tone warna yang dingin sepanjang film. Di awal, Hasan bahkan sempat bilang bahwa rumah tersebut berjarak 1 jam dari tetangga terdekat. Namun, saat Nina membawa kedua anaknya pergi belanja ke perkampungan, terlihat mereka berjalan kaki saja tanpa ada adegan naik angkutan atau membawa kendaraan sendiri. Kalau melihat struktur dari kampung tersebut, saya berpikir bahwa lokasi syuting mungkin di dataran tinggi karena rumah penduduk dan sawah yang saling bertingkat. Saya jadi agak bertanya-tanya soal berapa sebenarnya jarak rumah Bunda ke kampung terdekat.

Begitu juga dengan sosok Narsih (Dea Panendra) yang tiba-tiba datang ke Jakarta di awal film untuk mengabarkan bahwa kondisi Bunda memburuk. Dia mengaku sebagai orang yang merawat Bunda bersama beberapa orang lain, namun sepanjang film terlihat Bunda hanya tinggal sendirian dan tidak mengenal Narsih. Sosok Narsih memang muncul lagi di akhir film namun tidak dijelaskan sebenarnya dia siapa dan mengapa pergi ke Jakarta untuk memberitahukan keadaan Bunda. Bahkan saat Nina di awal film mengatakan kepada Hasan bahwa Narsih sempat datang, sikap Hasan terlihat biasa saja seolah dia memang mengenal Narsih dan benar Narsih yang merawat Bunda. Saya jadi bingung apakah Hasan sejak awal sudah tahu bahwa Narsih hanya berusaha memancing mereka pulang kampung atau bagaimana.

Teddy Soeriaatmadja adalah salah satu sutradara favorit saya sejak menonton Lovely Man karena sering mengambil tema film yang kontroversial. Untuk film drama, citi khas Teddy adalah menyajikan cerita minim dialog namun kaya dengan simbol. Affliction adalah film horor yang menurut saya cukup menarik idenya meskipun agak kurang di bagian penyelesaian dan beberapa hal yang bikin saya bertanya tanya sepanjang nonton. Sebagai film horor pertamanya, film ini cukup menarik karena Teddy mencoba mengeksplor genre selain drama. Saya berharap untuk film horor berikutnya Teddy bisa lebih dalam lagi menggali plot film agar tidak meninggalkan tanda tanya bagi penonton.

No comments :

Post a comment