Wednesday, 6 January 2021

[Review] Alice in Borderland (2020)

(cosmopolitan.co.id)

Arisu (Kento Yamazaki), Chota (Yuki Morinaga), dan Karube (Keita Machida), tiga sahabat yang bisa dibilang gak jelas hidupnya. Arisu adalah gamer gak minat bekerja dan selalu dibandingkan oleh ayahnya dengan adiknya, Karube bartender yang dipecat karena selingkuh dengan pacar bos, dan Chota karyawan biasa tapi suka diporotin oleh ibunya yang pengikut sekte aneh. Mereka bertiga tak sengaja menimbulkan kericuhan di jalanan Shibuya dan bersembunyi di toilet stasiun. Begitu keluar toilet, tiba-tiba jalanan kosong dan orang-orang lenyap serta muncul pengumuman aneh yang mengarahkan mereka untuk mengikuti game dengan taruhan nyawa.

Belakangan Netflix semakin banyak saja series yang keren-keren, Sweet Home dan Alice in Borderland salah satunya. Sebenarnya ini adalah live action dari manga dan anime berjudul sama. Dari judulnya, bisa terlihat bahwa film ini terinspirasi dari kisah klasik Alice in Wonderland dengan kearifan lokal Jepang dan lebih modern. Bagi yang belum tahu, orang Jepang punya Japanlish yang pelafalannya berbeda dari pelafalan English beneran. Contohnya, "love" dibaca "robu" dan nama Arisu sendiri adalah pelafalan Jepang untuk nama "Alice".

Ternyata yang bertahan hidup bukan hanya Arisu cs, masih ada sekumpulan orang-orang yang tetap hidup dan dipaksa untuk terus memainkan game maut yang tingkat kesulitannya disimbolkan dengan selembar kartu remi. Tiap jenis kartu juga menunjukkan tipe game apa yang akan dimaikan. Keriting berarti membutuhkan kerja sama tim, sekop memerlukan kekuatan fisik, wajik untuk permainan kecerdasan, dan hati adalah yang tersulit karena merupakan game penuh pengkhianatan.

Setiap selesai menamatkan game, maka mereka mendapatkan kartu remi dan visa sejumlah angka di kartu tersebut. Visa ini adalah semacam izin libur boleh tidak memainkan game. Misalnya berhasil menamatkan game dengan tingkat kesulitan 5 keriting, maka akan mendapatkan visa selama 5 hari boleh tidak main game. Sebelum masa 5 hari selesai, harus sudah main game lagi untuk mendapatkan visa tambahan. Kalau visanya keburu habis, maka otomatis ada laser dari langit muncul untuk menembak mati orang yang kehabisan visa.

Selain Arisu, ada juga beberapa tokoh lain yang merupakan simbolisasi karakter lain yang muncul dalam Alice in Wonderland. Mulai dari Usagi (Tao Tsuchiya) simbol dari kelinci putih yang diikuti Alice (Usagi sendiri merupakan bahasa Jepang dari kelinci), Hatter pendiri komunitas The Beach yang senang berpesta seperti halnya tokoh Mad Hatter si pecinta pesta minum teh, Chishiya (Nijiro Murakami) mewakili Cheshire Cat, si kucing tertawa yang menunjukkan jalan untuk Alice sampai ke tujuan akhir.

Nonton Alice in Borderland ini serasa menonton campuran SAW, Jumanji, Ready Player One, dan The Cabin in the Woods. Penonton bertanya-tanya sebenarnya siapa yang mengaturkan game-game tersebut, apakah alien atau sekelompok organisasi rahasia. Ke mana perginya orang-orang yang tidak ikut dalam game dan apa tujuan akhir dari permainan maut ini.

Sebagai seorang penggila film/anime/manga tipe isekai, Alice in Borderland benar-benar dunia impian bagi saya. Biarpun mati dalam salah satu game, kayaknya saya sudah cukup puas bisa merasakan dunia lain. Begitu berhasil menamatkan satu game dan mendapatkan visa beberapa hari, mari bersenang-senang sejenak dengan makanan minuman dan pakaian gratis sebelum main game dengan mempertaruhkan nyawa lagi. Tampaknya saya cocok untuk bergabung di komunitas The Beach milik Hatter.

Di season 1, hanya kartu angka saja yang muncul sementara kartu wajah dengan tingkat kesulitan lebih tinggi akan muncul di season 2 yang masih belum ada tanggal pasti penayangannya.

No comments :

Post a comment