Sunday, 5 August 2018

[Review] Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018)

(today.line.me)
Pada akhir tahun 90an, sebuah keluarga kecil sedang melangsungkan makan malam. Mendadak bapak dalam keluarga tersebut yang diperankan Teddy Syah memuntahkan beling dan tewas. Setelah meninggalnya sang bapak, terjadi kejadian-kejadian aneh dalam rumah tersebut. Sang ibu yang bernama Sri (Putri Ayudya) mulai mengalami kejadian mistis yang menakutkan.

Dari trailernya ada rasa-rasa Pengabdi Setan yang muncul, biarpun isinya tentu saja tidak sama dengan film tersebut. Rasa Pengabdi Setan muncul dari settingnya yang bernuansa jadul dengan kebanyakan adegan terjadi di sebuah rumah yang lokasinya terpencil dari tetangga. Bahkan dalam Kafir, sedikit sekali adegan interaksi keluarga ini dengan tetangga.

Banyak film horor yang kelewatan memasukkan jumpscare sehingga malah membuat penonton jadi kesal. Dalam Kafir, jumpscarenya minim sekali sehingga tak perlu ketakutan menutupi wajah. Suasana horor dalam film garapan Azhar Lubis ini dibangun pelan-pelan dari setting, suasana, dan skoring yang digunakan. Penonton sedikit demi sedikit akan mulai merasakan suasana yang mencekam dan tak nyaman mengikuti sosok ibu yang diteror. Tone warna yang digunakan juga memberikan nuansa yang menarik, adegan siang hari seperti tengah terjadi saat senja hari, waktu yang mistis jika menurut mitos orang Indonesia.

Tahun 2002, sempat dibuat film berjudul sama dan juga sinetron berjudul sama tapi berbeda cerita. Dalam film tersebut, Sujiwo Tejo yang menjadi tokoh utamanya, seorang dukun santet. Bagi yang pernah menontonnya, akting Mbah Tedjo sebagai dukun itu memang sangat memorable. Dalam Kafir 2018, Tedjo kembali lagi sebagai Dukun Jarwo, meskipun bukan pemeran utama. Gaya khas seorang dukun yang berpakaian serba hitam, gondrong, dan misterius masih tetap diperankan dengan baik. Terutama adegan saat ia mendadak terbakar.

Dengan setting di lokasi dan penonton yang masih banyak percaya pada hal bersifat klenik, Kafir memiliki kedekatan batin dengan para penontonnya sehingga berkesan dalam hati. Namun, ada beberapa kekurangan dalam film ini. Contohnya adalah penggunaan handphone Nokia yang seharusnya masih jarang untuk setting tahun 1998. Selain itu, film ini dimaksudkan untuk memberikan twist ending, namun twist tersebut telah tertebak sejak film berjalan 2/3 dan dari beberapa dialog. Kemudian penggunaan lagu dari piringan hitam da suara gantungan kunci lonceng juga justru malah membuat teringat pada Pengabdi Setan. Meskipun ada beberapa kekurangan itu, tetap saja Kafir: Bersekutu Dengan Setan adalah satu film horor lokal yang wajib ditonton tahun ini.

No comments :

Post a comment