Thursday, 23 August 2018

[Review] The Darkest Minds (2018)

(variety.com)
Dunia mendadak terkena wabah aneh yang hanya menyerang anak-anak di bawah 17 tahun. Yang berhasil selamat dari wabah itu jadi memiliki kekuatan khusus. Pemerintah yang melihat mereka sebagai ancaman, mengumpulkan mereka di sebuah kamp khusus. Ruby (Amandla Stenberg) berada dalam kategori oranye yang seharusnya dibunuh namun kemampuan memanipulasi ingatan yang dimiliknya membuatnya bisa lolos dan dianggap aman. Tapi, sampai kapan dia akan aman?

Pemerintah dalam The Darkest Minds menggolongkan para anak-anak yang selamat dengan menggunakan warna. Hijau untuk yang kecerdasannya meningkat, biru dengan kekuatan telekinesis, kuning bisa memanipulasi listrik, dan warna oranye dan merah yang dianggap berbahaya sehingga harus dibunuh di tempat.

Menonton film ini seperti melihat X-Men dengan rasa Divergent. Anak berkemampuan khusus ini bisa disebut sebagai mutant X-Men, penggolongan kekuatan berdasarkan warna dan warna terlarang yang harus dimusnahkan mengingatkan pada Divergent. Hanya saja, The Darkest Minds agak terlalu cheesy dan banyak dramanya dibandingkan X-Men dan Divergent yang lebih mengutamakan petualangannya. Selain itu, film ini juga menyelipkan unsur lagu-lagu pop yang cocok dengan adegannya.

Mirip Divergent, The Hunger Games, dan Maze Runner yang juga diangkat dari buku berjudul sama, The Darkest Minds mengambil tema anak muda yang melawan kekuatan militer orang dewasa yang takut pada potensi mereka. Hmm, yah mungkin memang sebenarnya seperti itu yang terjadi di dunia nyata, bukan?

Yang pasti, jangan mengharapakan kekuatan yang terlalu banyak variasinya seperti X-Men karena hanya ada lima kategori kekuatan yang muncul dalam film ini tanpa visual effect yang terlalu "wah". Sebaiknya film ini dinikmati saja sebagai film santai di akhir pekan.

No comments :

Post a comment