Saturday, 2 December 2017

[Review] Coco (2017)

(awn.com)
Pixar belakangan ini sedang membuat film dengan tokoh-tokoh utama yang semakin beragam. Setelah Moana yang mengambil setting di Hawaii, kini ada Coco yang mengambil kebudayaan Meksiko sebagai temanya. Di film-film, sterotype orang Meksiko adalah penyanyi yang senang membawa-bawa gitar. Bagaimana kalau ada keluarga Meksiko yang sangat benci musik?

Miguel (Anthony Gonzales) bercita-cita menjadi idolanya, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt). Tapi bagaimana bisa jadi musisi kalau keluarganya sangat benci dengan musik? Tak sengaja nyasar ke Negeri Orang Mati dan bertemu arwah keluarga yang sudah meninggal, Miguel harus mendapatkan restu idolanya untuk bisa kembali ke Negeri Orang Hidup.

Bicara soal orang Meksiko yang suka bernyanyi, banyak adegan bernyanyi dalam film ini meskipun belum kelewatan untuk jadi film musikal. Sutradara Lee Unkrich juga sengaja memilih orang-orang Latin sebagai pengisi suara sehingga para karakter bicara dan bernyanyi dengan logat Latin yang pas.

Dari segi jalan cerita, menarik untuk melihat kalau ternyata Meksiko memiliki satu hari khusus untuk menyambut arwah keluarga pulang ke rumah dalam kepercayaan mereka. Selain itu, beberapa panggilan khas Meksiko seperti Abuelita/Nenek, Tio/Paman dan Tia/Bibi juga digunakan. Ditambah dengan logat Latin para pengisi suara, panggilan-panggilan tersebut jadi terdengar eksotis.

Kenapa judulnya Coco? Karena Mama Coco, nenek buyut Miguel ternyata punya peran penting dalam film ini. Ngomong-ngomong, jangan sampai telat masuk teater karena ada film pendek Olaf's Frozen Adventure sebelum Coco dimulai. Film pendek tentang manusia salju ini akan menjadi pemanasan sebelum Frozen 2 yang dijadwalkan tayang 2019 mendatang.

No comments :

Post a comment