Monday, 4 December 2017

[Review] Night Bus (2017)

(layar.id)
Saya menyarankan kalian langsung segera ke bioskop mumpung film terbaik FFI (Festival Film Indonesia) 2017 ini sedang tayang ulang. Kalau kalian nonton, kalian bakal bersyukur banget film ini ditayangkan ulang meskipun hanya di beberapa bioskop saja.

Bertempat di alternate universe, sebuah bus antar provinsi sedang membawa penumpang ke daerah Sampar. Perjalanan yang seharusnya hanya 12 jam itu seolah tak ada ujungnya saat seisi bus terjebak dalam konflik senjata di perjalanan.

Meskipun posternya berkesan seperti horor, namun film ini lebih condong ke thriller dengan bumbu drama yang terselip dalam dialog. Dari awal menonton, penonton sudah mulai dibawa tegang dengan cepatnya bus tiba di pos pemeriksaan pertama yang dikawal tentara. Ketegangan semakin memuncak saat bus harus membawa gerilyawan melintasi pos penjagaan kedua. Meskipun ada beberapa bagian yang bisa menjadi jeda menarik nafas dan memancing tawa penonton, namun dengan cepat sutradara Emil Heradi meningkatkan ketegangan kembali.

Kalau kalian bertanya siapa tokoh utama dalam film ini, saya jujur saja susah memutuskan. Kenek Bagudung (Teuku Rifnu Wikana) memang banyak disorot dalam film, namun nyaris semua karakter punya porsi cerita yang menarik masing-masing. Teuku Rifnu Wikana sendiri juga merangkap sebagai produser bersama Darius Sinathrya dalam Night Bus.

Mungkin kalian mengira akan ada adegan "menyelamatkan dunia" ala film superhero. Oke, saya kasih tahu saja kalau tidak ada jagoan kebal peluru dalam film ini. Semua penumpang dan awak bus hanyalah manusia biasa yang tak sengaja terjebak dalam konflik bersenjata. 

Film pun ditutup dengan adegan yang membuat penonton merenung dalam hati mengenai peperangan, suatu pesan yang disampaikan dengan dramatis dan berdarah dalam Night Bus. Mumpung film ini masih tayang ulang, mending segeralah merapat ke bioskop yang memutarnya, ya!

No comments :

Post a comment