Thursday, 30 November 2017

[Review] Murder On The Orient Express (2017)

(movieweb.com)
Sesuai judulnya, tentu saja ada pembunuhan yang terjadi dalam kereta Orient Express yang terhalang timbunan salju. Korban, Ratchett (Johnny Depp), tewas dengan tikaman berkali-kali di seluruh tubuh. Apa detektif Hercule Poirot (Kenneth Branagh) bisa menemukan pelakunya sebelum kereta berjalan kembali?

Mungkin anak milenial kurang mengenal sosok detektif berkepala bulat telur dan berkumis dari Agatha Christie ini. Soal kumisnya yang heboh itu, Poirot memang dideskripsikan sangat membanggakan kumisnya. Sebagai sutradara, mungkin akhirnya Kenneth Branagh memutuskan untuk bikin kumis yang heboh saja sekalian.

Mirip seperti di buku, Detektif Poirot di film adalah seorang Belgia yang sopan dan elegan tapi narsis dan perfeksionis. Faktor kenarsisan dan perfeksionisnya itu yang membawa tawa penonton di beberapa bagian sehingga tidak terlalu serius. Selain itu, tentu saja pengamatan matanya yang tajam menarik kesimpulan membuat penonton kagum. Beberapa bagian dalam film menyiratkan bahwa mungkin saja akan ada kelanjutan aksi detektif berkumis ini dalam film baru meskipun belum ada kepastian. Kalian gak usah repot menunggu post credit scene karena emang gak ada, kok.

Hal menarik dari versi filmnya adalah sudut pengambilan gambar. Orient Express memang kereta mewah, tapi namanya kereta ya tetap saja sempit. Hal itu diakali dengan mengambil gambar dari bagian atas gerbong. Menarik karena jarang-jarang ada sudut pengambilan gambar begini.

Ngomong-ngomong, saya membaca beberapa bukunya tapi belum baca buku Murder On The Orient Express jadi saya sejak awal nonton juga ikut menebak-nebak siapa pelakunya. Mungkin yang pernah baca bukunya bisa bantu membandingkan perbedaan buku dan film?

No comments :

Post a comment