Friday, 22 April 2016

[Review] Surat Cinta Untuk Kartini (2016)


Film ini ditayangkan tepat pada Hari Kartini, 21 April 2016. Tentu saja, karena Kartini adalah tema utama dalam film ini. Namun, Surat Cinta Untuk Kartini mengambil sudut pandang dari Sarwadi (Chicco Jericho), seorang tukang pos yang sering mengantarkan surat dan jatuh cinta pada Raden Ajeng Kartini.

Kembali ke Jepara pada tahun 1900an, Ndoro Ajeng Kartini (Rania Putrisari) dipandang aneh oleh penduduk kota Jepara karena memiliki ide mendirikan sekolah bagi kaum perempuan. Sarwadi dalam hari pertamanya sebagai tukang pos, mengantarkan surat ke rumah Bupati Jepara dan jatuh cinta pada Ndoro Ajeng Kartini. Dengan keterbatasan pemahamannya, Sarwadi berusaha membantu Kartini mengajak anak-anak belajar membaca dan menulis. Termasuk dengan mendorong anaknya sendiri dan anak-anak tetangga untuk ikut belajar. Dan ceritapun terus berlanjut hingga seperti sejarah yang kita ketahui, bahwa Kartini meninggal saat melahirkan anak pertamanya.

Chicco Jericho tak perlu diragukan lagi aktingnya dalam beberapa film belakangan ini. Sarwadi, tukang pos sederhana yang sering nyeker dengan rambut tersisir licin diperankan dengan amat baik seolah ia sungguh berasal dari tahun 1900an. Rania Putrisari yang memulai debutnya di dunia akting dengan peran istimewa sebagai Raden Ajeng Kartini sayangnya kurang bernuansa Jawa. Logatnya kurang medok dan gerak-gerik yang masih terasa kurang halus, mesti menurut saya wajahnya memiliki kemiripan dengan potret Kartini yang sering saya lihat terpampang di kelas semasa sekolah dulu.

Surat Cinta Untuk Kartini menyajikan sejarah hidup Kartini diitambahkan dengan bumbu romansa fiksi. Film ini memberikan perspektif baru yang membuat penonton lebih tertarik untuk mengikuti kisah hidup Kartini dengan cara penuturan yang menarik dibandingkan penjelasan ala ala buku sejarah.

RATE:
7.8/10


"Saya Sarwadi Putra Raja Langit, mencintai Ndoro Ajeng Kartini"

No comments :

Post a comment