Monday, 18 April 2016

[Review] Eye In The Sky (2016)


Salah satu alasan utama saya menonton Eye In The Sky adalah karena ini film terakhir dari Alan Rickman alias Professor Severus Snape di Harry Potter. Setelah merampungkan film ini, Alan Rickman tutup usia pada usia 69 tahun di awal tahun 2016 ini. Dan beliau menutup film terakhirnya dengan penampilan yang sempurna sebagai Letnan Jenderal Frank Benson.

Suka bermain dengan drone? Teknologi drone berperan sangat penting dalam film ini. Kolonel Katherine Powell (Hellen Miller) memimpin misi penyergapan teroris Al-Shabaab di sebuah gubuk di Nairobi, Kenya. Situasi lokasi yang akan menjadi tempat penyergapan terpantau detik demi detik lewat teknologi drone yang digunakan militer Inggris. Namun rencana penyergapan berubah menjadi rencana penyerangan dengan misil saat mini drone berbentuk kumbang yang dikendalikan agen rahasia Jama Farah (Barkhad Abdi) berhasil menyusup masuk ke gubug dan menemukan rompi bunuh diri yang disiapkan organisasi Al-Shabaab.

Menariknya, tema yang diambil Gavin Hood sebagai sutradara adalah cerita di balik layar dalam membuat keputusan penyerangan. Seorang anak kecil berjualan roti di depan gubuk yang akan menjadi target penyerangan. Jika misil diluncurkan, besar kemungkinan anak tersebut akan menjadi korban. Orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan peluncuran misil pun terbagi dalam dua kelompok, mendukung pengorbanan seorang anak untuk mencegah korban yang lebih banyak atau berkeras menunda peluncuran misil demi nyawa anak tersebut.

Penonton dibuat tegang dan berdebar bukan oleh aksi-aksi penuh ledakan dan baku tembak, namun lewat adegan menunggu pengambilan keputusan atas nyawa seorang anak yang tengah berjualan roti, adegan yang sederhana namun menjadi ikut menjadi kekalutan batin bagi penonton. Jajaran cast di Eye In The Sky sukses memainkan perannya masing-masing dan semua tokoh memiliki porsi pentingnya masing-masing.

Eye In The Sky memberikan gambaran segi perspektif baru mengenai proses pengambilan keputusan penting pemerintahan saat berada dalam posisi sulit. Bagaimana para petinggi pun harus melewati adu argumen untuk satu keputusan, dan bagaimana kebenaran adalah korban pertama dalam peperangan.

RATE:
8.5/10

No comments :

Post a comment