Saturday, 14 November 2020

[Review] The Queen's Gambit (2020)

(lifetstyleasia.com)

Beth Harmon (Anya Taylor-Joy) anak yatim piatu yang tak sengaja belajar main catur dengan tukang bersih-bersih di panti asuhan. Dalam beberapa tahun saja, namanya melambung tinggi dan dijagokan menjadi juara dunia. Dengan semua kegemilangan itu, Beth terjebak dalam obat obatan dan alkohol kemudian hidupnya kian suram.

Setting film The Queen's Gambit di pertengahan tahun 1950an dan 1960an, saat tranquilizer pills menjadi obat yang lazim diberikan pada anak-anak di panti asuhan dan dianggap seperti vitamin biasa. Saya saking penasarannya sama obat ini sampai googling sana sini. Dari pemahaman saya, tranquilizer adalah obat penenang dosis tinggi yang memberikan efek relaksasi dan ngefly. Kalau di masa sekarang, obat ini diperuntukkan bagi orang-orang yang mengalami insomnia, anxiety, dsb serta perlu resep dokter.

Bagi Beth yang memang sudah ada bibit jenius dari ibunya yang bergelar Ph. D di bidang matematika, efek tranquilizer membuat dia bisa memvisualisasikan papan catur dan pergerakan bidaknya di langit-langit. Dia menyusun strategi dan memutar ulang berbagai pertandingan yang sudah dilakukannya dalam pikiran. Masalahnya adalah lama-lama dia jadi semakin kecanduan, tanpa tranquilizer rasanya dia tidak pede bertanding. Dengan semua uang hadiah yang didapat dari pertandingan, dia juga hidup hedon dan kecanduan alkohol.

Anya Taylor-Joy memainkan karakter Beth Harmon dengan luar biasa, tipikal introvert jenius yang menganggap catur adalah hidupnya. Dia cantik, dingin, dan serius, namun juga jenius dan fashionable. Iya, wardrobe yang dipakai dalam The Queen's Gambit bagus bagus semua, benar-benar sesuai dengan zaman itu saat para perempuannya dengan dress dan mantel sementara lelakinya berjas rapi ke mana-mana. Banyak yang menjagokan The Queen's Gambit untuk kandidat Academy Awards mulai dari jalan cerita, akting, kostum, hingga musik.

Kombinasi Beth dengan ibu angkatnya, Alma Wheatley, juga menarik. Meskipun tidak ada hubungan darah, mereka cocok sekali. Alma tahu bagaimana memanfaatkan kejeniusan Beth dengan mendatangi berbagai turnamen catur meskipun sisi buruknya membuat Beth terjebak hidup hedon.

Tenang saja, tidak perlu jadi maniak catur untuk menikmati film ini karena sorotan utamanya memang bukan dalam teknik permainan melainkan pada perkembangan karakter Beth. Asalkan mengerti nama bidak dan nama jalannya, harusnya bisa mengerti jalan cerita film seri dari Netflix ini. Pernah nonton atau baca Hikaru no Go? Nah, The Queen's Gambit rasa-rasanya mirip dengan Hikaru no Go minus ada arwah yang jadi mentor dan Hikaru no Go sangat fokus ke teknik.

Btw, sedikit trivia menarik yang saya temukan tentang dunia catur. Meskipun ada pemisahan kejuaraan catur putra dan putri, tanding campur tetap boleh dilakukan. Pecatur perempuan boleh bergabung di kejuaraan grup putra dan megantongi gelarnya jika menang seperti yang dilakukan Beth Harmon. Pada dasarnya, catur memang olahraga yang tidak menggunakan tenaga fisik namun tenaga pikiran sehingga putra dan putri bisa sejajar dalam catur meskipun dunia catur internasional hingga saat ini lebih didominasi oleh lelaki mungkin karena secara biologis lelaki cenderung lebih berpikir dengan logika.

No comments :

Post a comment