Wednesday, 25 November 2020

[Review] Violet Evergarden (2018)

(theredstringblog.com)


Violet, mantan tentara anak yang dijadikan anak angkat oleh keluarga Evergarden setelah perang berakhir. Terlalu lama di medan perang dan tidak diperlakukan sebagai manusia membuatnya kesulitan dalam mengenali emosi manusia. Bekerja sebagai auto memory doll (semacam ghost writer) membantu Violet  dalam mengenali emosi manusia dan diri sendiri.

Berasal dari light novel berjudul sama, anime Violet Evergarden bersetting di Perancis universe lain karena ada menara Eifell seperempat jadi di salah satu adegan. Karena saya googling Eiffel dibangun 1887-1889, berarti perang di anime ini memang hanya fiktif saja bukan memakai latar WWI atau WWII. Sisanya, kondisi kota dan lingkungan dibuat seperti sekitaran tahun tersebut, sudah ada motor, mobil, pesawat, dan kereta meskipun jadul.

Pekerjaan auto memory doll yang muncul di sini menarik. Setting anime adalah masa di mana masih ada orang yang buta huruf sehingga perlu bantuan para doll untuk bantu menuliskan surat atau sudah bisa baca tulis tapi kesulitan untuk merangkai kata dalam surat. Kalau zaman sekarang, bisa dibilang pekerjaan doll ini seperti halnya content writer.

Umur Violet tidak diketahui, diprediksikan bahwa umurnya sekitar 14 tahun. Waktu saya mencari artikel tentang Violet Evergarden, ada artikel pembahasan bahwa sebenarnya Violet menunjukkan ciri-ciri autis. Contohnya seperti ia kesulitan melakukan interaksi sosial dengan cara umum, sulit mengenali emosi orang lain dan diri sendiri, serta kesulitan memperlihatkan ekspresi di wajah. Selengkapnya bisa dibaca di sini saja pembahasannya. Bisa dibilang, kondisi Violet yang bermasalah akibat perang (Post Traumatic Stress Disorder / PTSD?) adalah metafora dari kondisi penyandang autis.

Terdiri dari 1 season dengan 13 episode ditambah 1 movie dan 1 OVA, penonton diajak melihat bagaimana perkembangan karakter Violet yang awalnya seperti robot sampai hampir tidak lulus ujian doll menjadi mulai menampakkkan sisi manusianya dan mengenali emosi manusia termasuk dirinya sendiri. Btw, sebenarnya untuk OVA ini agak aneh, settingnya adalah di antara episode 4 dan 5 tapi ditampilkan terpisah. Jadi kalau kalian heran kenapa di episode 5 mendadak Violet jago bikin surat cinta mewakili Princess Charlotte, jawabannya adalah di OVA ini dia belajar caranya saat mendapat klien seorang artis teater musikal. Daripada dipisah, mending digabung saja agar tidak membuat bingung penonton yang mungkin tidak tahu kalau ada OVA dan kemudian jadi bertanya-tanya kenapa Violet mendadak sudah mahir menulis surat.

Banyak yang bertanya-tanya apakah akan ada kelanjutan  season 2, namun kondisi yang sedang tidak stabil akibat pandemi membuat belum ada kabar dari Kyoto Animation selaku studio produksi. Cukup banyak yang memprediksi kemungkinan adanya season 2 dari perjalanan Violet Evergaden saat pertengahan tahun 2021 kelak karena masih banyak cerita yang bisa digali lagi, mulai dari Major Gilbert yang masih belum jelas kondisinya,  latar belakang para karyawan di CH Postal Company, hingga banyaknya klien pengguna jasa auto memory doll yang memiliki cerita unik sendiri.

Ada sedikit hal menarik, sepanjang nonton ini saya bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan pakaian  yang dikenakan Benedict, si tukang pos. Jika kalian memperhatikan, dia menggunakan kemeja putih biasa, namun saat dia berbalik ternyata punggung kemejanya itu ada ikatan tali silang panjang dan dia menggunakan heels. Di movie, penampakannya akan lebih jelas lagi karena kemunculannya lebih sering. Mungkin memang itu fashion yang ngetrend di masa (atau universe) tersebut?

No comments :

Post a comment