Saturday, 18 July 2020

[Review] SKY Castle (2018)

(wolipop.detik.com)
SKY Castle merupakan cluster perumahan yang ditinggali oleh beberapa keluarga elit dengan jabatan terhormat di masyarakat. Para orang tua ambisius ini berusaha agar anaknya bisa mendapatkan nilai terbaik dan masuk ke universitas paling bergengsi kemudian mengikuti jejak orang tuanya. Bahkan, guru privat pribadi dengan bayaran miliaran Won juga disewakan demi prestasi anak agar bisa dibanggakan orang tuanya.

Tahun lalu saya mengunjungi Korea Selatan dan tour guide lokal membahas mengenai sistem pendidikan di Korea. SKY Castle bisa dibilang menunjukkan sisi kelam bagaimana orang tua Korea sangat memuja nilai anaknya dan menjadikan anak sebagai trofi untuk dipamerkan. Btw, sebenarnya bukan hanya di Korea saja sih, hampir semua negara Asia memang budayanya begini.

Ada 3 universitas top di Korea, yaitu Seoul National University, Korea University, dan Yonsei University yang populer disingkat sebagai "SKY". Bagi orang Korea, bisa masuk ke salah satu dari 3 univ top tersebut berarti jalan hidup akan mulus ke depannya. Lulusan SKY? Wah,  langsung dinilai sebagai pasangan/mantu/karyawan idaman! Gengsi langsung naik.

Gara-gara mengejar masuk ke SKY, para murid sekolah Korea sudah diarahkan untuk bimbel bahkan sejak masih SD. Berdasarkan cerita tour guide waktu itu, anak SD sudah bimbel sampai jam 8, anak SMP sampai jam 10, dan anak SMA sampai jam 12. Awalnya saya kira cuma dilebaykan saja, sampai ada adegan saat Seo-Jin, salah satu ibu dalam SKY Castle berkata pada anaknya yang kelas 3 SMP "Kamu pulang bimbel jam 10 malam, masih ada waktu belajar privat". Oke, berarti memang seperti itu realitanya di Korea -_-"

Di Korea, ujian masuk SMP, SMA atau univ unggulan menjadi fokus para siswa. Ujian kelulusan SD, SMP, atau SMA bukan hal yang perlu dikhawatirkan. Jadi memang sepanjang film yang dibahas hanya masuk universitas terus, tidak ada pembahasan ujuan kelulusan SMA.

Film lebih menyorot pada 4 sosok ibu dari keluarga yang tinggal di SKY Castle ini. Seo-Jin, ibu dari Ye-Seo yang nilainya selalu tertinggi dan ambisius masuk kedokteran; Jin-Hee, ibu cerewet dari Su-Han yang biasa-biasa saja dan ngefans dengan Seo-Jin sehingga sering mengikuti jejaknya; Seung-Hye, ibu dari 3 anak yang tertekan dengan suami egois; dan Su-Im, ibu tiri yang baik hati, tipe orang tua demokratis yang bersahabat dengan anak.

Dalam misi memasukkan Ye-Seo ke kedokteran Seoul University, Seo-Jin bahkan mengeluarkan uang miliaran Won untuk menyewa Kim Ju-Yeong, tutor privat yang track recordnya benar-benar mulus. Semua anak didikannya 100% tembus masuk SKY!

Istilah tutor privat ini bukan berarti guru privat. Tutor privat bukan mengajar, namun mengatur jadwal anak sedemikian rupa termasuk mengepalai guru-guru berbagai mata pelajaran yang mengajar si anak dan menganalis nilai anak tersebut. Tujuannya hanya satu, mengantarkan si anak ke SKY meskipun dengan cara kotor sekalipun.

Misi awal memasukkan Ye-Seo ke SKY ternyata berbuntut panjang, berbagai intrik terungkap. Mulai dari ternyata Seo-Jin hanya memalsukan identitas untuk diterima di pergaulan atas, perebutan jabatan di RS tempat kerja para ayah. Tutor Kim yang misterius juga menjadi salah satu pertanyaan sepanjang film. Anak-anak yang dilatihnya berhasil tembus SKY namun keluarga mereka mengalami tragedi. Seperti lirik OSTnya, "We all lies" dan "People cheat each other, right?"

Saya tidak bisa memberikan banyak pembahasan mengenai film ini karena lebih baik jika penonton langsung mengikuti sendiri perjalanan intrik kehidupan di SKY Castle. Yang pasti, film ini memang memberikan pesan sangat baik bagi para orang tua sampai-sampai menjadi film seri dengan rating tertinggi dalam sejarah Korea sebelum tergeser oleh The World of Marriage.

No comments :

Post a comment