Saturday, 31 August 2019

[Review] Gundala (2019)

(Bumilangit Studios)

Di kota Jakarta universe lain, ketimpangan sosial dan kriminalitas merupakan salah satu masalah  sehari-hari para penduduknya. Sancaka (Abimana Aryasatya) yang merupakan seorang penjaga keamanan pabrik mendadak mendapat kekuatan super setelah tersambar petir.

Gundala merupakan pintu pembuka menuju Jagat Sinema Bumilangit / Bumilangit Cinematic Universe yang akan mengangkat kisah para superhero lokal. Karakter Gundala dalam komik merupakan ciptaan Hasmi yang populer pada tahun 70an. Dalam film Gundala, Joko Anwar selaku sutradara meminjam karakter Gundala dengan penceritaan asal usul yang berbeda dari komiknya.

Dalam versi komik dikisahkan Sancaka adalah ilmuwan yang koma tersambar petir dan diberi kekuatan super oleh raja kerajaaan petir. Versi film mengisahkan Sancaka adalah petugas keamanan yang mendapat kekuatan setelah tersambar petir.

Tokoh antagonis dalam film Gundala adalah Pengkor (Bront Palarae), seorang mafia yang mengasuh para anak yatim piatu sebagai anak angkat sekaligus pembunuh loyal. Karakter Pengkor merebut perhatian penonton sekaligus mengingatkan pada konsep "Father From Hell" yang ada di Headshot (2016). Setelah Ibu yang ikonik di Pengbdi Setan, kini ada Bapak di Gundala.

Konflik yang diangkat juga bisa dibilang cukup berat, yaitu ketimpangan sosial. Mulai dari adegan pembuka berupa demo buruh yang dimotori ayah Sancaka hingga bentrok antara pedagang pasar dengan preman. Bisa dibilang film ini lebih berkiblat ke DC yang temanya cenderung dark dibanding Marvel yang humoris. Tentu saja tetap ada beberapa adegan latau dilog lucu yang muncul di Gundala.

Joko Anwar terkenal sebagai spesialis film horor dan thriller, Gundala adalah film pertamanya yang mengusung genre action. Adegan aksi yang ditanpilkan dalam film ini menggunakan bela diri pencak silat yang koreografinya dikerjakan Cecep Arif Rahman. Salah satu adegan menarik yang ditampilkan adalah saat Sancaka kecil belajar bela diri di gerbong bekas dan kamera bergeser ke samping mengikuti gerakan mereka. Sayangnya, beberapa adegan aksi masih terasa kurang nyata, contohnya saat bentrokan di pasar. Selain itu, anak-anak Pengkor yang terlalu banyak membuat perhatian penonton terpecah dan nyaris tak ada anak Pengkor yang berkesan di otak penonton, sangat berbeda dengan Mad Dog di The Raid dulu. Salah satu yang cukup berkesan hanya sang penari yang diperankan Cecep juga dengan adegan duel di tepi rel kereta.

Tentu saja, ada beberapa adegan yang cukup brutal hadir di Gundala seperti pembunuhan toilet yang dilakukan dengan menusuk pulpen ke kepala korban dan adu pukul berdarah-darah.

Dari segi efek visual, untunglah efek yang ditampilkan cukup bagus dan tidak parah seperti efek di sinetron meskipun ada beberapa adegan yang kurang nyata. Ada beberapa plot hole yang muncul di film ini dan mungkin membuat penonton agak bertanya-tanya.

Sebagai pembuka Jagat Sinema Bumilangit, bisa dibilang Gundala adalah tolak ukur animo masyarakat untuk proyek film superhero lokal. Dengan beberapa catatan kritikan yang tertulis di atas, tetap saja Gundala cukup sukses menjadi pembuka gerbang dan promonya yang lumayan heboh berhasil menarik perhatian masyarakat untuk mencari tahu tentang para superhero yang akan tampil berikutnya.

Bagi yang sudah mencari tahu soal para patriot yang akan muncul di Jagat Sinema Bumilangit, kalian akan menemukan beberapa easter eggs yang menarik termasuk dari film-film Joko Anwar yang lain. Setelah film selesai,jangan lupa bahwa ada satu mid credit scene yang akan tampil sebagai petunjuk untuk film berikutnya.

No comments :

Post a comment