Sunday 5 May 2019

[Review] 27 Steps of May (2019)

(kumparan.com)

WARNING! Mengandung banyak adegan eksplisit rape dan self harm yang berpotensi membuat penonton triggered.

May (Raihaanun) menjadi korban pemerkosaan saat SMP. Delapan tahun telah berlalu, namun trauma kejadian itu masih menghantuinya dan membuatnya takut keluar rumah. Sehati-hari, May membuat boneka dibantu ayahnya (Lukman Sardi). Di malam hari, ayah May menjadi petinju untuk menyalurkan emosi atas perasaan bersalah tak bisa melindungi putrinya. Suatu hari, ada retakan di tembok kamar May yang membuatnya bisa mengintip ke tetangga sebelah yang dihuni oleh seorang pesulap (Ario Bayu).

Film dibuka dengan warna-warni saat May tengah berada di pasar malam sebelum disergap dan diperkosa saat pulang. Setelah itu, adegan lebih banyak di dalam rumah May yang dominan dengan warna abu-abu semen karena lantainya tidak dipasangi keramik dan warna pastel dari baju May.

Diceritakan May bertahan hidup karena rutinitasnya, bangun, menyeterika baju, menggelung rambut, membuat boneka, dan makan bersama ayahnya dalam diam. Perilaku May yang mengarah ke OCD kemungkinan disebabkan karena traumanya meskipun tidak dijelaskan bagaimana perilakunya sebelum mengalami pemerkosaan.

Raihaanun memerankan karakter May dengan baik meskipun di bagian awal terlihat terlalu dipaksakan untuk menjadi anak SMP. Sebelum menemukan retakan di tembok, mata May nampak kosong dengan muka suram namun lama-kelamaan ia nampak semakin hidup seiring dengan interaksinya dengan pesulap lewat retakan di tembok.

Tema trauma pemerkosaan yang diangkat oleh sutradara Ravi Bharwani merupakan tema yang jarang diangkat namun berhasil dibawakan dengan baik dalam 27 Steps of May. Film bukan hanya menyorot pada bagaimana trauma juga menghantui May, namun juga berpengaruh pada keluarga yaitu ayahnya. 

27 Steps of May sangat minim dialog, bahkan lebih minim lagi dari Ave Maryam. Antara May dengan ayahnya nyaris tak ada dialog sama sekali, mereka membuat boneka dan makan bersama dalam diam. Dialog hanya muncul sedikit saat ayahnya berinteraksi dengan temannya yang mengambil boneka dan di arena pertarungan gelap. Sebagai gantinya, ada beberapa hal yang bersifat simbolik muncul seperti saat pesulap mengajari May untuk bermain dengan borgol dan May menjadi panik meskipun berhasil lepas. Hal itu bisa dimaksudkan sebagai simbol rasa tidak berdayanya dulu saat diperkosa.

Mungkin ini agak spoiler, tapi sebenarnya saya berharap pesulap tersebut sebenarnya tak pernah ada. Rasanya akan lebih menarik apabila sebenarnya pesulap tersebut hanya ada dalam pikiran May saja karena ada beberapa hal yang cukup aneh bila diperhatikan. Kamar May hanya 1 lantai sementara tempat si pesulap biasa berinteraksi dengan May ada di lantai 2. Apabila memmperhatikan posisi retakan, seharusnya lokasi si pesulap adalah di samping rumah May namun, di sebelahnya adalah rumah yang sangat berbeda dengan tempat tinggal si pesulap.

Film ini diputar berbarengan dengan Avengers: Endgame, yaitu di tanggal 27 April. Meskipun saya sempat mengira film ini akan terdepak oleh Avengers, nyatanya film ini mampu bertahan dan banyak diulas di mana-mana. Mungkin 27 April dipilih agar film lebih banyak diputar di sepanjang bulan Mei dan menyesuaikan dengan judulnya.

Apa arti dari angka 27 di judul?  Tadinya saya mengira itu adalah jumlah langkah dari pintu kamar May ke pagar depan rumah atau jumlah interaksi May dengan si pesulap. Namun, setelah saya googling, ternyata Rayya Makarim selaku penulis skenario mengungkapkan bahwa angka 27 itu tertus begitu saja dan tak ada arti. Terserah bagaimana penonton mengartikan angka tersebut. Mungkin benar, 27 adalah langkah yang perlu dilakukan May untuk keluar dari kamarnya dan kembali melihat dunia.

No comments :

Post a Comment